|
Kali ini saya akan bercerita tentang hobi saya selain 'diskusi', yaitu memasak. Dalam memasak kita membutuhkan peralatan dapur dan pondasi dapur yang memadai, kecuali memasak di alam seperti yang dilakukan idola saya Haryo Pramoe di alam bebas. Nah, peralatan yang mendukung itu, salah satunya adalah kitchenset.
Ya, interior dapur ini sungguh berpengaruh bagi saya. Satu set meja kompor, meja meracik, sink cuci piring, rak bumbu, almari, laci-laci, tempat kulkas, tempat dispenser, tempat menyimpan tabung gas. Semua itu tergabung menjadi satu kesatuan desain yang biasa dinamai kitchenset. Dan saya sangat memimpikan barang ini.
Saya memiliki beberapa pengalaman yang berbeda dengan kitchenset, sesuai tempat yang pernah saya tinggali. Pertama, rumah saya. Kitchenset rumah saya bernuansa biru dengan keramik disana-sini. Almari di bagian atas juga berwarna biru, dan sebuah sink cuci piring. Tak ada tempat kulkas, bahkan meja meracik. Sungguh kecil. Bahkan keramiknya sempat 'rampal' gara-gara wajan kebakaran sewaktu ditinggal mandi mama saya (tapi sekarang sudah dipasang lagi). Dan, sayangnya, kitchenset sederhana satu-satunya ini sudah almarhum. Genk tikus di rumah saya tak tahan untuk tidak menggerogoti saluran pipa gas. Karena berbahaya, maka di rumah, kami memasak tanpa kitcehnset. Kompor diletakkan dimana, kulkas dimana, ricecooker dimana, meracik dimana. Bisa dilakukan dimana-mana, tak terarah. Lumayan untuk olahraga.
Kedua, kitchenset di dapur kos saya dulu. Nuansanya merah dan cukup luas. Tapi, sink tidak jadi satu paket. Dan yang bikin malas adalah, kompor gas di sana harus dinyalakan dengan bantuan tang. Oh M G! Dan akan ada bunyi Buub! saat mematikan kompor, ngerrriii!
Ketiga, rumah kontrakan saya dan kakak saya, sewaktu saya SMP. Lebih parah lagi. Hanya sebuah meja triplek dengan satu kompor single. Sudah.
Oh, betapa saya merindukan seperangkat kitchenset yang sesungguhnya! Akhirnya, baru-baru ini mama saya membangun kitchenset sederhana di rumah saya yang lain. Luas. Bernuansa hijau, tempat meracik, tempat kompor, sink, dekat kulkas, asyiik. Tapi, jangan senang dulu. Karena berbagai alasan, tempat ini belum dimanfaatkan hingga sekarang. Mungkin hanya akhir minggu saya bisa menikmati kitchenset baru itu.
Saya sangat suka memasak dan saya mendambakan sebuah kitchenset seperti yang ada di TV-TV. Di acara rumah unik, di acara laris manis, atau di rumah artis siapalah yang pernah muncul di infotainment, hihihi. Kitchenset lengkap dengan kompor digital dan perlengkapan memasak mutakhir lainnya. Saya yakin, kitchenset yang nyaman nan glamor akan membuat acara memasak jauh lebih menyenangkan, dan mungkin jadi lebih enak, hihihi.
Saking terobsesinya saya pada kitchenset, sampai-sampai di suatu hari, saya bilang pada teman dekat saya. "Kalau kita JADI menikah nanti, mas kawinnya aku mau kitchenset yang glamor, oke?" ujar saya serius. Semoga impian menjadi kenyataan, hihihi. Amin.
 Sudah lama saya ingin posting tulisan ini. Dan terimakasih untuk cerpen Ardi Wilda yang telah mengingatkan saya akan cerita pasar malam yang berhubungan dengan tulisan ini. Tempo hari di lapangan Denggung, Sleman digelar sebuah perhelatan besar menyambut HUT Sleman. Ada pameran UKM, instansi pemerintah, dan yang paling menarik hati saya adalah pasar malam.Kerangka-kerangka bianglala, komedi putar, tong setan mulai didirikan. Tiap kali saya lewat Jalan Magelang, tak pernah sekali pun saya tak menengok. Saya ingiiiin sekali bertandang ke pasar malam itu. Sungguh saya sangat suka pasar malam. Terutama permainan-permainannya yang bak Dufan Kerakyatan, hehehe. Berhari-hari saya mengajak beberapa teman untuk datang, tapi hasilnya nol besar. Pernah saya berpikir untuk datang sendiri. Ah, tapi ntar kayak orang ilang. Saya putuskan untuk menunggu patner saya kembali dari pulang kampung. Tiba juga saatnya mengunjungi pasar malam Diana Ria itu. Parkiran sangat membludak, maklum malam Minggu. Berbeda dari pasar malam yang kerap saya kunjungi sewaktu masih kanak-kanak, pasar malam Diana Ria memiliki banyak wahana baru zaman sekarang. Saya sempat tergelak melihat wahana pancing plastik. Wahana ini terdiri dari kolam plastik rendah dengan beberapa hiasan aquarium di sana-sini. Di dalamnya ada banyak sekali ikan. Namun, ternyata ikan-ikan itu hanyalah ikan buatan belaka, alias dari plastik. Walau hanya kamuflase belaka, wahana ini sangat laris oleh para balita yang enjoy memancing. Haha, bodoh juga anak-anak yang kena tipu itu. Di tengah keramaian, saya amat tertarik pada wahana ombak banyu. Ini salah satu alasan terbesar saya datang ke pasar malam. Tiket seharga 5 ribu tak menjamin kami memasuki wahana dengan mudah. Kami harus berdesakan dengan para penggemar wahana ini. Remaja, ibu-ibu, bapak-bapak. Kalau anak-anak saya agak toleran. Saya juga mengingatkan patner saya untuk tidak brutal pada anak-anak. Sambil mengantri dan berdesakan, kami menyaksikan atraksi yang membuat bibir saya secara spontan meluncurkan teriakan-teriakan histeris. Bagi yang belum tahu, wahana ombak banyu ini terdiri dari kerangka besi berbentuk seperti piring besaaar dan pinggirannya adalah tempat duduk. Cara kerja wahana ini adalah diputar oleh tenaga manusia-manusia ajaib. Jadi, kita akan merasa melayang, berputar cepat, rendah, tinggi, sungguh memicu adrenalin. Yang membuat histeris adalah atraksi para pemutar ombak banyu. Lelaki-lelaki malam itu berayun di pinggiran rangka sambil berlari memutar piringan besar. Menggantung di rangka, berjumpalitan, melompat dengan gerakan yang sangat cepat melesat. Sungguh keren dan heroik, tentunya sangat berbahaya! Tak cukup sekali untuk merasakan sensasinya lagi! Berikutnya Tong Setan. Saya tak berhenti bertepuk sepanjang pertunjukkan. Bayangkan dua pengendara motor berkebutan, lepas stang di dinding tong besaaaar. Tak hanya motor, pengedara sepeda onthel pun turut beraksi. Gila. Jantung ini kebat-kebit kalau-kalau mereka sampai terjatuh! Sungguh saya merasa mereka, para lelaki pasar malam itu sungguh ajaib. Peluhnya bercucur dimana-mana sembari melakukan atraksi yang sama tiap harinya. Walau mungkin tak semua dari mereka berniat menghibur para pengunjung, namun saya merasa sangat puas dan saluuut! Manusia-manusia ajaib di pasar malam Apa gerangan yang ada di pikiranmu? Lelaki-lelaki malam di pasar malam Apa kau bahagia dengan pekerjaanmu? Pria-pria berkeringat di pasar malam Tetaplah menjadi pria pasar malam yang menghibur orang-orang
Hari ini saya mengalami kisah perjalanan yang menjengkelkan.Dan kisah ini mengingatkan saya bahwa saya amat sangat tidak suka jalan sendiri. Rasanya seperti anak ilang atau orang kurang kerjaan atau terlihat tak punya teman. Alasan-alasan tadi membuat saya sangat malu jika harus jalan sendiri. Bahkan saya sering menertawakan teman saya yang nonton sendiri atau jalan ke mal sendiri. Kurang kerjaan!
Satu dua orang teman pernah bilang, "Memang kenapa kalau jalan sendiri?" Apa ada yang salah? Kenapa harus terus menerus kemana-mana dengan teman yang itu-itu saja? Hemm, saya akui saya memang jarang sekali pergi sendiri, terutama dalam kasus jalan-jalan. Kalau tak sama keluarga, teman genk (hehehe), pacar pun jadi. Pokoknya nggak sendiri. Dan ada teman saya yang sering mengejek saya tentang hal ini. Kemana-mana berempat..kemana-mana berempat, nggak punya pendirian, dll. Hahaha, saya sih hanya berkilah dengan kata SOLID, hahaha.
Tapi hari ini, sungguh saya bete, waktu saya ingin jalan-jalan, teman-teman sedang tidak asyik semua. Ada yang pacaran, sedang sakit, kuliah, bahkan nggak mood. Second choice yaitu pacar pun sedang tidak ditempat. Bagaimana ini? Saya pun menjadi bete dan uring-uringan. Di saat seperti ini saya sering membayangkan, bagaimana kalau saya jalan sendiri? Untuk memutuskan keputusan besar ini, saya butuh waktu yang cukup lama. Saya memprediksi apa yang akan terjadi kalau saya jalan ke mal sendiri, atau nonton sendiri.
Dan itu terus saya pikirkan hingga sekrang, sepertinya sangat keren kalau berani jalan sendiri, untuk ukuran seperti saya yang genk sentris, hihihihi. Jika sudah terbiasa, sepertinya tak akan bete dan uring-uringan kalau patner jalan sedang tidak bersedia.
Saya bersumpah saya harus berani melakukan ini, minimal sekali seumur hidup saya, hahaha. Tunggu laporannya ya jika benar terjadi, hihihi.
Lama sekali tak bersua dengan multiply karena digilas oleh kesibukan KKN, Lebaran, dan Liburan. Kini, diladol dal dil dol kembali menyapa anda dengan berita terhangat yang dibawanya. Hari ini saya melakukan perjalanan dua dara bersama seorang sahabat, starin sani. Mula-mula kegiatan kami masih berfaedah, yaitu membaca referensi di perpustakaan dalam rangka mengimbangi niatan untuk skripsi yang semakin mencekat. Bertahan dua jam di perpustakaan, tentunya diiringi dengan acara gosip on the spot, kami memutuskan untuk memulai perjalanan. Di sinilah bagian cerita yang menjadi pokok inti kisah ini. Dari kampus Fisipol UGM kami menuju Bakso YAP, dari Bakso YAP kami menuju Galeria, dari Galeria kami menuju Dante dan Elips, dan dari Elips kami menuju Jolie. Perjalanan menuju Jolie, kami melewati sebuah jalan yang harus diwaspadai. Jalan ini adalah jalan burung. Pasalnya, tiap kali melewati jalan ini kita akan langsung disergap dengan bau yang sangat tidak sedap. Sungguh polusi udara tingkat akut. Jenis bau tidak sedap yang menyerang adalah bau tai burung yang sangat menyengat. Jalan burung ini tepatnya berada di jalan selokan mataram, utara fakultas kehutanan UGM. Aduh, entah apa yang menyebabkan keadaan ini terjadi. Dulu sih sempat bau juga, tapi tak separah sekarang. Apa sekarang lagi musim burung ya? Soalnya, di hutan UGM itu banyak burung-burung berterbangan dan mungkin sekali buang hajat sembarangan. Parah parah. Harus siap tahan nafas kalau lewat sini. Kalau mau ngebut pun agak sulit karena ramai dan selalu terhalang lampu lalu-lintas (yang artinya harus berhenti barang 1-2 menit dengan keadaan tersiksa bau). Jadi, pada siapa kita harus minta pertanggungjawaban? Saran saya, gunakanlah masker atau slayer yang tebal dan disemprot pewangi secukupnya. Atau jika kamu penyelam handal, silakan tahan napas untuk menghambat terjadinya serangan polusi udara. Selamat berjuang!
Huh, sebal rasanya mengingkari janji, tapi mau bagaimana lagi.
Dulu saya sempat berjanji untuk mengupdate blog saya satu minggu sekali. Namun, kenyataan berkata lain. Saya terpaksa mengikuti program KKN yang diwajibkan oleh UGM. Oh, rasanya seperti kembali ke zaman batu, hehe. Agak berlebihan ya kedengarannya. Sebenarnya saya bawa modem, namun sungguh tak sempat membuka koneksi di rumah ini.
KEgiatan wajib saya sekarang adalah menghadiri pertemuan pemuda masjid, mengajar TPA, latihan dangdut untuk 17an, pertemuan ibu-ibu PKK, pengajian, bersih-bersih kuburan, dan lain sebagainya. Hehehe, sungguh pengalaman yang sibuk. Ditambah lagi, koneksi di sini tak secepat di rumah.
Harap maklum selama dua bulan ke depan, saya akan jarang sekali menyapa multiply, hehe. Maturnuwun.
 Masih berkelanjutan dari postingan saya sebelumnya, Pasar Kangen. Salah satu penampilan tarinya adalah Jathilan, dari paguyuban Rewe-Rewe, Bantul. Busyet, melihat rombongan jathilan yang telah bersiap, saya mengurungkan niat saya untuk pulang setelah menyaksikan tarian Jawa. Sumpah, saya sangat suka dengan tarian yang satu ini, Jhatilan! Sebuah tarian kesenian daerah Jawa yang enerjik dan dinamis, dimainkan oleh kaum muda dengan kostum yang meriah. Biasanya akan diakhiri dengan adegan kesurupan para pemain. Wuuh, ini adegan paling seru. Degup jantung berdebar karena dentum gamelan dan perasaan was-was ditubruk orang kesurupan, hehehe. Mendengar gamelannya saja (musik tradisional pengiring Jathilan), hati saya ikut bergetar dan menyeruakkan rasa ingin melihat. Saya pun memutuskan untuk (lagi-lagi) pulang malam. Sms minta ijin saya kirim pada mama saya, "Mah, aku pulang telat, ada jathilan." Saya yakin mama saya pasti mengerti sekali hasrat saya. Pasalnya, saya memiliki beberapa pengalaman yang asyik tentang jathilan di masa kecil saya. Saya kecil dapat dikatakan penggemar berat jathilan. Bahkan mama saya sering menyebut saya dengan 'maniak jathilan'. Pernah suatu kali saya merengek minta diantar melihat jathilan di kampung sebelah pukul 02.00 pagi karena mendengar bunyi gamelannya. Untung mama saya itu cukup pengertian, pagi buta diantarkanlah saya melihat segelintir orang 'ndadi' (kesurupan) itu. Pengalaman lain, saya pernah menginap di rumah saudara saya yang di kampungnya ada pertunjukan jathilan. Saya bersikeras menginap malam itu. Mama saya sudah mengancam saya agar saya memntapkan diri dan memang benar mau menginap. Kenyataannya, pada tengah malam saya terbangun dan menangis minta diantar pulang. Tak hanya itu, saking gilenya saya terhadap jathilan, saya sering bermain jathilan-jathilanan dengan properti yang saya buat sendiri bersama teman-teman saya. Aduh, sungguh malu kalau ingat peristiwa itu. Pasalnya, kostum yang saya bikin itu sangat 'enggak banget deh'. Saya sempat mengabadikannya, tapi perlu saya cari dulu keberadaan foto itu, baru bisa saya upload di sini. Tunggu saja,hehe. Sensasi menonton jathilan ketika saya kecil tak serta merta hilang dalam diri saya ketika menikmati jathilan rewe-rewe di Pasar Kangen itu. Meski saya sudah dewasa, dan meski pemainnya enggak kesurupan..
 Hari Selasa (9/5) yang lalu, saya dan teman genk saya, Starin, Yuyun, dan Zata (is always) mengunjungi sebuah pasar seni di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) yang menarik hati. Kami menemukan banyak kesenangan di sini. Berawal dari promosi seorang teman, Fathur yang bergembar-gembor bahwa dirinya akan pentas tari di TBY. Dengan latar belakang ketertarikan mendalam terhadap tarian Jawa, kami pun berniat akan menonton dengan suka cita. Tibalah kami tepat waktu pukul 15.30 WIB saat acara dibuka. Ternyata tak hanya pentas tari saja yang bisa kami nikmati, di TBY sedang digelar Pasar Kangen. Pasar Kangen ini kabarnya diselenggarakan oleh paguyuban Didik Ninik Towok yang terkenal itu bekerjasama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta. Acara dirangkai dengan pameran beberapa stand kesenian dan panganan tradisional. Mulai dari kaos lukis, sepatu lukis, panganan kipo, jenang, dawet, hingga jamu. Lebih asyik lagi, ada pameran seni yang digelar di gedungnya. Meski tak begitu mengerti seni, tapi saya pribadi selalu senang dengan acara-acara seperti ini. Maka saya menikmati beberapa lukisan, dan instalasi-instalasi aneh yang saya tak tahu maksut dan tujuannya, hehe. Tari yang disuguhkan pun memukau kami, termasuk tarian fathur. Kami duduk di barisan terdepan dan sesekali bersorak heboh karena terkesiap menyaksikan adegan tarian perang srikandi yang menegangkan. Sungguh beruntung saya dekat dengan kota Jogja yang sering menyelenggarakan acara kesenian semacam ini. Salah satu usaha yang patut diacungi jempol demi mengapreasiasi sekaligus melestarikan kebudayaan daerah.
 Beberapa hari yang lalu saya merayakan ulang bulan 'pertemanan dekat' saya (duh ribet banget namanya, saya sangat malu menyebutkan ulang tahun jadian, ehem, alay). Bulan ini giliran saya memberi kado pada teman dekat saya itu. Duh, berhubung saya malas mengeluarkan banyak uang alias aksi glamor palsu, jadilah saya berniat memberikan kado yang handmade saja. Pucuk dicinta ulam tiba, di rumah banyak sekali bahan-bahan alat jahit menjahit, ya iyalah namanya juga toko peralatan jahit, hehe. Nah, saya mencoba kreativitas saya dengan alat-alat itu, jadilah sebuah dompet flashdisk a la diladol. Saya berikan padanya, dan dia suka. Haha, atau suka karena terpaksa ya? Kreasi ini berlanjut ketika SKM Bulasumur menggelar acara aksi kreasi. Salah satu stand memamerkan karya awak SKM Bulaksmur. Karena pada ikut pameran, saya pun memberanikan diri untuk ikut juga. Memamerkan flashdisk wallet karya saya. Ehem, walaupun karya saya tampak paling remeh temeh diantara yang lainnya (paper toys, mims kalung, sepatu lukis, dan kaos foto). Saya membuat 12 buah dompet flashdisk dengan mengorbankan waktu tidur saya. Kreasi bentuk hewan-hewanan saya aplikasikan pada dompet flashdisk yang kecil mungil ini. Beberapa saya bagi ke teman dekat saya, irham dan yuyun. Selebihnya, saya patok dengan harga Rp 2 ribu saja, hahaha. Mungkin tampak remeh dan sepele, bahkan ada teman yang masih menawar harga semurah itu (plis deh, kalian gak glamor banget sih?heheheh). Namun, saya bangga dengan karya saya itu, yang saya buat dengan sepenuh hati, diladol flashdisk wallet. Mau?
 Kurang lebih 1 bulan saya menetap di rumah, setelah meninggalkan rumah kos saya.Memang agak jauh dari kampus dan kota, sekitar 25 km, tapi keuntungan lainnya juga sebanding. Di rumah, tiap hari saya bertemu orang tua saya, saya tidak kesepian, saya jadi jarang pulang malam, saya lebih sering mandi, saya bisa membantu mama saya memasak. Yang jelas, hidup saya jadi lebih teratur setelah saya di rumah. Maklum, ada si bos (mama) saya yang selalu siap sedia menghardik..hehe. Salah satu keteraturan saya adalah membawa bekal dari rumah. Ketika saya kos, jelas ini tak mungkin dilakukan. Di kos saya tak pernah memasak, repot dan tak ada waktu. Lain jika saya di rumah. Tiap pagi mama saya memasak untuk orang rumah, dan saya dengan untungnya membawa masakan ke alam kampus untuk makan siang. Sekotak tempat makan pink bergambar tweety dan botol minum berwarna kuning selalu menemani saya setiap harinya. Jadi lebih asyik lagi karena teman genk saya juga ikut membawa bekal. Maka, tiap siang, kami akan membuka bekal masing-masing dan makan bersama sambil ber'diskusi'.Teman-teman lain sering berkomentar, "piknik nih ye", atau "kayak anak TK", atau malah "asik ya, jadi pengen bawa juga" Komentar teman-teman kami terima dengan haha hihi saja. Pasalnya, memang banyak keuntungan yang dapat diraup dengan membawa bekal, diantaranya adalah: 1. Jelas lebih lebih lebih irit (mengingat genk kami adalah genk glamor palsu) 2. Bisa saling pamer makanan apa yang dibawa hari ini 3. Menikmati keindahan kampus sambil berpiknik makan bekal 4. Irit banget..(udah ya tadi?) 5. Sebagai antisipasi mahalnya harga makanan zaman sekarang (ujung-ujungnya irit lagi) hehe. 6. Kami bisa menghemat waktu dengan tak usah menunggu pesanan di kantin, langsung buka kotak, cling..makanan siap disantap. Bagaimana? Mau membawa bekal juga? Nb: Thx to aldi yang udah motoin ;)
 | Lomboken | May 18, '09 11:00 AM for everyone |
 Ada yang pernah dengar istilah lomboken? Bagi kamu yang orang Jawa tulen tentunya langsung mengerti. Berikut ini akan saya paparkan betapa mengerikannya penyakit lomboken, dan bagaimana mengantisipasinya. Jumat-Minggu (15-17/5) yang lalu saya menjadi panitia jimah 2009, semacam ajang perkemahan SMA 3 Yogyakarta. Dalam acara tersebut, sudah menjadi rutinitas bahwa para koki untuk panitia adalah ibu-ibu guru yang super dahsyat dalam memasak. Nutrisi sungguh terjamin di bumi perkemahan AAU itu. Dan, pengalaman buruk saya juga berawal dari kedahsyatan masakan para ibu itu. Di hari terakhir, saya dan teman saya yang juga panitia, Indah berniat mulia untuk membantu memasak. Kami diberi tugas oleh sang master chef untuk menguras biji cabai dan mengirisnya tipis-tipis. Ehem, untuk sekedar keterangan, jumlah cabainya adalah sekitar satu baskom. Potong demi potong kami lalui dengan gegap gempita, dan akhirnya pekrjaan itu tunai sudah, sambal goreng daging dengan potongan cabai karya kami. Masalah muncul 10 menit kemudian. Tiba-tiba, rasa panas yang menggelora munjalar di sekujur telapak tangan kami. Benar-benar panas bagai terbakar, kali ini saya tidak lebay (ini yang kemudian disebut dengan istilah 'lomboken'). Indah mulai kebingungan. Kami pun mengadu pada sang master chef. Dengan santainya ia mnejawab, "Aku udah tau mbak, makanya aku nggak mau megang lombok." Jawaban tersebut kami terima dengan lapang dada. Oleh sang master kami disarankan mengoleskan minyak goreng dingin pada tangan kami. Kami menurut, dan tak ada hasil. Rasa panas makin menggila, sumpah 10x lipat panasnya dari koyo' cabe yang terkenal sbg koyo' yang ampun DJ panasnya. Panas yang menyiksa itu memaksa kami tak bisa melakukan kegiatan apapun, apalagi yang menggunakan tangan. Segala upaya kami lakukan. Mulai dari mengolesi minyak, garam, air, sabun, selada air, air lagi, bioplasenton, hingga es batu. Semua sia-sia, rasa panas berubah menjadi perih tak terperi. Dan yang paling menyakitkan adalah tak ada penampakan yang berarti di tangan kami, hingga semua teman merasa heran dan menertawai tingkah kami yang kebingungan (tunggu hingga kalian merasakannya). Sebenarnya, saya antara merasa geli dan susah. Susah karena sungguh rasanya sangat menyiksa. Geli karena selama 4 jam, saya dan Indah melakukan upaya nonstop untuk menghentikan serangan cabai sialan itu. Dan yang paling membuat saya merasa tidak bermutu adalah ketika kami menjadikan tangan kami sebagai tangan aquarium. Dua kantong plastik kami isi dengan air. Tangan kami masukan ke dalamnya. Tali rafia senantiasa mengikat pergelangan tangan kami agar air tidak tumpah, dan kami membawanya kemana-mana, dan tetap tidak sembuh. Oh man, gila, saya tak mau lagi berurusan dengan cabai. Untuk langkah antisipasi, silakan olesi tangan dengan minyak goreng dingin sebelum bergelut dengan cabai. Tapi untuk yang lebih bergaransi, silakan menggunakan plastik atau sarung tangan saat kamu berurusan dengan cabai dalam jumlah banyak jika tak ingin merasakan siksaannya. Bahkan Indah sampai menangis tersedu tak sanggup merasakan dahsyatnya. Dalam waktu 5 jam, siksaan akan berakhir. Namun, jangan senang dulu karena siksaan itu bisa 'kumat' sehari setelahnya, hingga saya mengetik tulisan ini. Berhati-hatilah kawan dengan kecil-kecil cabai rawit.
 | Paradoks | May 5, '09 12:22 PM for everyone |
 Malam ini saya sedang dirundung masalah. Masih menyangkut tentang idealisme, duh biyung. Sebelumnya saya minta maaf jika tulisan kali ini akan sedikit memusingkan. Pasalnya, saya sendiri juga bingung untuk menyampaikannya. Saya lagi-lagi bertemu dengan perbedaan perspektif. Kali ini perspektif divisi redaksi dan divisi produksi di sebuah media pers mahasiswa (ni lagi..ni lagi, hehehe). Tak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Ternyata cukup sulit menggabungkan dua perspektif, tulisan dan visual. Sebut saja produknya dengan nama Bulakomik, berita rasa komik. Satu sisi, redaksi sangat mementingkan unsur nilai berita. Sisi yang lainnya, produksi ingin berbicara melalui gambar. Dan keduanya (nilai berita dan gambar), kali ini tak lantas bisa bertemu pada satu titik tengah. Ini yang membuat saya senewen. Terkadang ambisi terhadap perspektif yang saya yakini membuat saya terkesan memaksakan perspektif oposisi. Dalam hal ini, lagi-lagi teman dekat saya ikut berkomentar. Ia menjelaskan," Itu namanya paradoks. Orang merasa apa yang diyakininya benar. Tapi sayangnya, lingkungannya (yang jumlahnya lebih banyak) meyakini hal yang sebaliknya lebih benar. Orang itu jadi dianggap aneh, walaupun mungkin sebenarnya orang itu memang benar." Sebenarnya saya agak pusing dengan istilah paradoks itu, hehe, yang saya tahu pak dokdok (tukang mi yang sering lewat, haha garing). Namun, teman saya kemudian melanjutkan, "Kalau dari yang aku lihat, orang boleh idealis, boleh punya perspektif sendiri, tapi juga tak boleh memaksa." Ehem, kata-katanya nyentil banget, hehe. Saya jadi ingat cerita lainnya yang berkaitan dengan pemaksaan idealisme ini. Suatu hari teman saya yang lain menceramahi saya. Ia menyalahkan sikap saya, menyobek kertas buku dua kali karena salah tulis. Ceramahnya berisi tentang cinta lingkungan, berapa pohon yang ditebang untuk jadi kertas, dsb, dsb. Dan saya dengan cueknya menjawab," Duh, kertas diciptakan kan untuk menuhin kebutuhan kita." Intinya, saya tak mau dipaksa untuk menjadi seperti dia yang mungkin menulis di media non-kertas (hah?hehe) dan memandang perbuatan saya adalah kriminal. Lalu, saya sadar. Iya juga ya, saya tak suka dipaksa, maka saya pun tak boleh memaksa. Mungkin saya hanya perlu lebih memahami apa artinya perbedaan pandangan. Satu lagi yang saya sadari dari rundungan masalah ini. Kadang-kadang, teman dekat saya itu pintar juga, hehehe.
 Masih dalam rangka Hardiknas, saya ingin menulis tentang bapak pendidikan. Bukan pendiri universitas tertua, bukan pula penemu buku pertama di dunia. Lalu, siapakah dia? Namanya Anindito Aditomo. Ia adalah kakak ipar saya. Entah kenapa di Hardiknas dua hari yang lalu saya teringat padanya. Ini semata-mata karena ciri utama yang dimilikinya, gila BELAJAR. Ya, benar-benar gila belajar. Hobinya sekolah, dan maniak membaca buku di mana saja kapan saja. Maka, saya dengan nekat menjulukinya dengan sebutan bapak pendidikan, haha. Mungkin memang banyak orang di dunia yang gemar belajar ilmu pengetahuan. Namun, menjadi sangat aneh ketika salah satu orang itu ada di dekat kita. Bukannya tidak bagus, hanya saja ehem mungkin sangat bertolak belakang dengan hobi saya sendiri. Suatu hari Mas Nino (nama bekennya) bertanya pada saya dengan mimik muka heran (serius heran), "Dek, kamu kenapa nggak suka belajar?" Hah? Sontak saya terkejut (hehe, maaf agak lebay). Dalam hati saya berpikir, seharusnya saya yang bertanya mas..mas kenapa kamu bisa suka belajar? Yang saya tahu, belajar memang banyak manfaatnya, tapi jujur saja itu kerap membuat saya pusing dan jenuh. Sedangkan, mas Nino sebaliknya. Tanpa belajar atau membaca, dia akan merasa pusing. Lalu, ia bertanya lagi," kalau nggak suka belajar, kamu sukanya apa?" Saya menjawab,"ketawa." Jawaban yang mungkin aneh atau tidak bermutu untuknya kali ya, hehe. Tapi memang begitulah kekontrasan saya dengan kakak ipar saya itu. Maka tak heran jika sekarang dia melanjutkan hobi sekolahnya, S3 di negeri orang, dan saya bercanda tawa di sini. Sepertinya saya akan membutuhkan hobi bapak pendidikan ini untuk membantu skripsi saya nanti. Jadi, saya tetap akan bercanda tawa, sambil berfoto di Grha Shaba Pramana Mei 2010, amin. nb: untuk mas nino semoga cepat lulus dan segera menjadi menteri pendidikan, hehehe.
 Salam cumi-cumi, Saya ingin bercerita sedikit, lebih tepatnya pengumuman, hehe. Hari ini saya pergi ke pameran komputer jauh-jauh dari rumah hanya untuk membeli bluetooth device seharga Rp 35 ribu (so pasti yang paling ekonomis, baca: murah). Mimpi saya seolah menjadi kenyataan. Pasalnya, sudah lama saya ingin sekali posting blog dan review saya dilengkapi dengan foto. Masalahnya adalah kabel data handphone saya agak kiamat sugro alias tidak dapat berfungsi dengan baik, bahasa kerennya lagi, rusak, hehe. Jadilah mulai sekarang saya akan melengkapi postingan saya dengan foto ala kadarnya. Meskipun tak sebagus dan tak seartistik foto teman-teman saya yang fotografer, tapi semoga cukup memuaskan rasa penasaran kamu, hehe, PD sekali. Selamat datang dan selamat berjasa blututdol..
Hari Jumat adalah hari yang saya juluki dengan hari "ada-ada aja." Pasalnya, tiap Jumat malam saya memiliki kewajiban untuk rapat Dewan Pimpinan SKM UGM Bulaksumur, pers mahasiswa di kampus saya.
Kenapa tagline itu bisa muncul? Karena di malam itu, saya harus mempersiapkan mental untuk menghadapi kabar baik maupun buruk dari para pemimpin divisi, seperti divisi umum, produksi, iklan promosi, dan litbang.
Seperti yang terjadi malam ini. Sungguh memicu adrenalin saya. Ada-ada saja masalah yang timbul. Kali ini kami dibuat pusing oleh permasalahan perspektif media. Saya tak pernah membayangkan sebelumnya saya akan mengalami ini. Saya memang kerap mendengar tentang pertentangan perspektif (agak berat kalau dibilang idealisme, haha) antara redaksi dengan iklan di media-media besar. Bagaimana mereka harus bisa berkompromi untuk menjaga citra dan posisi media itu sendiri. Kini, permasalahan yang hanya saya tahu dari cerita itu kini sedang menghantui saya, hehehe. Secara gamblangnya, ini menyangkut tentang rebutan halaman, hahaha.
Jujur saja, saya merasa gelisah. Saya heran, dulu ketika masih bau kencur di persma ini, mungkin saya berpikir secara ekonomis. Iklan banyak tak menjadi masalah, yang penting kaya raya, hehehe. Namun, entah kenapa kini saya lebih memikirkan dengan serius permasalahan ini. Bagaimana saya yang tak rela jika konten tulisan di sebuah media harus digilas oleh iklan. Bagaimana saya memikirkan tanggung jawab sebuah media kepada para pembacanya. Bagaimana saya memikirkan posisi media komunitas kampus yang seharusnya sarat informasi, bukan promosi.
Hingga suatu ketika, teman dekat saya menanggapi curhatan saya. "Waduuh, sekarang kamu jadi idealis nih ye," seraya tersenyum menggoda.
Saya sendiri sebenarnya masih merasa rancu dengan definisi idealis itu. Idealisme yang mana? Idealisme apa? Idealisme dimana? Semalam berbuat apa? Hehehehe. Yang jelas, yang saya pikirkan hanyalah demi kebaikan media komunitas kampus yang sedang saya pimpin.
nb: peace, love, n gaul untuk semua DP Bul. Bersama kita bisa, dukung, lanjutkan! Hahaha (sok serius tenan aku, kikikik)
Pagi ini saya mulai menerima langganan koran saya yang pertama, senangnya. Namun, saya kaget waktu membuka halaman Kompas regional, kok Jawa Tengah? Setelah beberapa detik, saya baru sadar, oh iya rumah saya kan masuk wilayah Jawa Tengah, hik. Bukannya tidak senang atau tak bangga, tapi selama ini saya banyak melakukan aktivitas di Jogja (rumah saya letaknya nanggung banget, di perbatasan). Jadi, saya lebih merasa menjadi orang Jogja dan lebih ingin tahu informasi tentang kota itu daripada wilayah saya sendiri, ehehehe.
Hmm, ya sudahlah, tak apa. Akhirnya, saya tetap membaca headline Kompas Jawa Tengah. Judulnya, Wonogiri Paling Siap. Artikel ini menggoda saya untuk berkomentar, khususnya untuk pemerintah.
Sedang ada proyek Jalan Lintas Selatan (JLS) yang akan melewati Kabupaten Wonogiri, Purworejo, Kebumen, hingga Cilacap. Benar sekali! (buat kamu yang sudah bisa menebak, yang belum bisa jangan kecewa, masih ada kesempatan berikutnya, hehehe), penggusuran. Tinggal 12 warga yang tersisa untuk tetap bertahan. Dan saya sangat mengerti alasannya. Uang ganti rugi yang diberikan sungguh tak masuk akal. Tanah warga dihargai Rp 60 ribu per meternya, padahal harga pasaran tanah mencapai Rp 300 ribu. Busyet, enak betul ya pemerintah.
Sudah begitu, pemerintah masih ingin terus usaha dengan dalih "ini kan kepentingan umum." Okey, sejak indil-indil (kecil) memang kita selalu dicekoki pelajaran PPKn (PKn) untuk selalu mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Tapi kini saya hanya bisa tertawa kalau ingat semboyan itu. Dalam konteks ini, "Gile aje cuy! Pemerintah pernah ngasih ape ke kite? Nagih mulu, bantu kagak!"
Saya sangsi pemerintah akan peduli saat warga mengalami kesulitan ekonomi karena harus memulai lagi hidup baru, setelah penggusuran murah itu. Salah satu warga mengaku, ia tak mau digusur karena toko kelontongnya merupakan satu-satunya mata pencaharian, sudah punya pelanggan dengan tempat strategis. Jika mereka pergi, semua akan dimulai lagi dari nol kan? Apa pemerintah yang akan jadi pelanggan toko tiap hari? Atau menjamin dengan memberikan pekerjaan baru?
Selalu seperti ini. Saya sadar, sudah banyak orang mengemukakan isu ini. Dan saya juga terima kalau pemikiran saya dianggap basi. Tapi nyatanya, yang basi ini tak kunjung bisa diperbaiki, kan?
Mungkin pandangan saya terlalu ekonomis atau matrealistis (ceile), tapi kini pandangan ini menurut saya dan mungkin kamu menjadi hal yang rasional.
Kalau sudah begini, warga yang individualis atau pemerintah yang bengis? Ah, lebih baik kita mringis..
Tempe, makanan yang kerap disebut makanan rakyat ini adalah favorit saya. Beruntung, mama yang baik hati selalu menyetok persediaan tempe ini setiap hari, jarang absen. Rasa yang sederhana justru tak pernah membuat bosan untuk menyantapnya. Sayangnya, saya sering heran dan bahkan tidak terima ketika tempe dikonotasikan negatif sebagai ugkapan 'mental tempe'.
Menurut situs nomor satu andalan definisi, wikipedia, ehehhe, Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai "ragi tempe".
Makanan ini mengandung banyak khasiat. Selain menyimpan berbagai vitamin, ternyata makanan yang asal mulanya lahir di Jogja ini bisa membantu menurunkan kolesterol, hipertensi, dan jantung. PAmornya juga makin meningkat. Makanan asli Indonesia ini juga terkenal di luar negeri. PAra vegetarian di dunia memanfaatkan makanan ini sebagai pengganti daging. JIka ingin tahu lebih legkap, silakan cek sendiri di wikipedia ya, hehe.
Intinya, makanan tempe ini memiliki banyak fungsi postitif bagi tubuh. Namun, kenapa bisa muncul ungkapan 'mental tempe'? Setahu saya, orang yang sering dibilang sebagai mental tempe adalah orang yang tidak kuat mental, mudah menyerah, mudah tersinggung, tidak berguna (waduh, mulai berlebihan ya sepertinya, hehe). Padahal, kamu tahu sendiri bahwa tempe sendiri tidak memiliki sifat seperti itu bukan? Sebenarnya apa korelasi di balik tempe dan mental tempe? Kenapa bukan mental klepon (yang memang akan segera basi dan tidak tahan lama) atau mental garam (yang langsung larut tanpa bekas jika dimasak)?
Apapun konotasi negatif yang 'nebeng' nama tempe, saya akan tetap setia untuk membuat mendoan tempe dengan tepung bumbu sajiku yang nikmatnya ajiib betul.
Kali ini saya punya cerita tentang keluarga, bukan kelurga cemara, bukan juga keluarga si doel anak betawi, melainkan keluarga saya.
Di keluarga saya, semua orang suka memasak, terutama mama saya yang suka banget dengan masakan bersantan. Ayah saya pun gemar memasak jika mama saya sedang tidak ada dirumah, walaupun hasilnya semua masakan menjadi semanis gula jawa, sambal sekalipun. Mungkin hanya kakak saya yang kurang suka memasak, entah karena tak suka atau tak bisa, hehehe.
Dari pendahuluan di atas (ceile, lu kate makalah), saya ingin bercerita tentang aksi memasak mama saya. Jujur saja, saya merasa kagum dan heran dengan aksinya. Pasalnya, sepertinya tangan mama saya terbuat dari baja. Tangan beliau tahan panas cing! Saya hanya bisa berdecak kagum saat mama mengangkatsebuah panci panas dari kompor, memindahkan wajan panas, menuang air panas dari ketel yang panas, mencicipi nasi goreng dari penggorengan yang panas, dan semuanya dilakukan dengan tangan kosong, alias tidak memakai lamping.
Saya jadi berpikir, dengan sedikit latihan, mungkin mama saya akan sanggup menggoreng kerupuk tanpa menggunakan spatula seperti yang ada di TV, hehehe. Dan jika jualan gorengan, pasti jadi laku keras lantaran pengunjung akan menunggu-nunggu aksi tangan baja mama saya.
Kemudian, saya jadi mengerti sekarang mengapa lamping batik yang saya beli di mirota batik seharga Rp 13 ribu dan saya hadiahkan kepadanya waktu itu menganngur sia-sia di dapur (hosh, bernafas dulu).
nb: luv u mom, pertahankan prestasi anda di bidang kuliner, hehehe
ada ungkapan yang menyatakan, "apalah arti sebuah nama." Kali ini saya ingin bercerita sedikit tentang arti sebuah nama, tepatnya nama seorang penulis yang tercantum di dalam karyanya.
Belakangan ini saya disibukkan dengan proyek besar di Surat Kabar Mahasiswa Bulaksumur UGM, yaitu menerbitkan sebuah jurnal populer, sebut saja dengan nama TELISIK. Selama beberapa bulan kami telah menyiapkan segala sesuatunya. Mulai dari rapat tema, reportase, hingga menulis. Kini, hasil akhir berupa 1000 eksemplar dengan cover berwarna itu telah ada di depan mata.
Namun, satu yang membuat saya kaget, amat kaget. Singkatnya, ada salah satu penulis yang namanya tidak dituliskan dalam karyanya (karena masalah kesalahpahaman dan lain hal). Saya memutuskan untuk menghubungi si korban (ceile, korban) untuk menjelaskan duduk perkara, meminta maaf, dan berjanji akan melakukan ralat. Lalu dengan heroiknya si korban yang namanya diamankan (heheh) menjawab, "Nek aku sih ra masalah dol, ra penting bagiku jenengku ono opo orak. Sik penting telisik wis dadi, apik." (aku gak masalah dol, gak penting namaku ada atau tidak, yang penting telisik udah jadi).
Ups! Betapa heroiknya orang ini pikirku. Namun aku tetap berpikir, apa mungkin dia benar tak apa? Yah, apa tau tak apa, sudah menjadi tanggung jawabku untuk melakukan ralat. Menurutku, penghargaan bagi seorang penulis (selain karyanya dibaca banyak orang, diapresiasi, atau bahkan kemudian mendapat penghargaan) adalah dengan mencantumkan namanya di atas atau dibawah karya yang telah dihasilkannya. Inilah arti sebuah nama bagi seorang penulis, penghargaan. Dihargai atas apa yang ada dalam pikirannya kemudian melahirkan sebuah tulisan.
Maka, aku menempel kertas stiker bertuliskan namanya pada 1000 eksemplar TELISIK volume #7
Nb: im so sorry jak, aku sangat menghargai kerja kerasmu selama ini, makasiiih banyak.
Ehem, pendahuluan. Saya salah seorang trainner pengembangan diri dan motivasi di SMA 3 YK. Tulisan ini sebenarnya materi untuk handbook jimah (semacam camp tahunan), tapi tak apalah saya bagi di sini. Apalagi bagi kamu yang merasa masih berjiwa remaja, hehehehe
Stadium berapakah patah hatimu?
Siapa yang tak pernah patah hati? Perasaan ini datang dan pergi begitu saja, tapi efek yang dihasilkan saat mengalaminya bisa mengganggu. Akibat patah hati bisa bermacam-macam, bahkan jika ekstrim, dapat mengancam keselamatan jiwa kamu sendiri. Orang yang patah hati menjadi malas berkegiatan, apalagi belajar, susah konsentarsi, kurang tidur, dan yang lumayan parah adalah kehilangan rasa percaya diri. Ups, tapi jangan sampai ini menimpa diri kamu. Pertama kamu harus sadar akan bahaya dan ruginya terlalu lama berteman dengan patah hati ini. Setelahnya, berusahalah menyembuhkan dirimu dari keterpurukan. Sebelum menyelami musuh remaja ini lebih jauh, coba cek dulu keadaan hatimu dengan kuis ini.
1. Apa yang biasanya bikin kamu patah hati? a. Putus sama pacar b. Marahan sama sahabat c. Kucing di rumah meninggal dunia 2. Setelah putus dengan mantan, bagaimana perasaanmu? a. Tetap happy tanpa beban b. Menangis 7 hari 7 turunan c. Asyiik, akhirnya bisa putus juga 3. Kamu melihat mantanmu jalan sama cewek/cowok lain, kamu? a. Sooooo sad, harusnya aku yang jalan sama dia sekarang b. Bagus deh kalau si mantan udah ada yang mau c. Jalan juga sama gebetan baru ah! 4. Si mantan misscall-misscall kamu pas malam minggu, kamu? a. Cuek bebek, gengsi donk b. Langsung telpon balik, kali-kali aja dia mau ngajak keluar c. Kirim sms ke dia: berisik lu ah! 5. Apa yang kamu lakuin pas malam minggu, setelah putus dari pacar? a. Nonton film bareng keluarga di rumah b. Jalan bareng temen-temen se-genk c. Pasang mp3 lagu-lagu kenanganmu bareng si mantan 6. Tanpa sengaja, kamu nemuin foto si mantan di selipan rak buku, lalu kamu? a. Telpon atau sms mantan, ngaku kalo keinget dia b. Cari korek api atau kompor gas, tak segan membakar foto mantan c.Menyimpan foto mantan di album foto berjudul: Korban-korban gue 7. Setelah putus sama mantan, ada yang ndeketin kamu nih, sikap kamu? a. Nggak dulu deh, masih cinta beraaat sama si mantan b. Saatnya memulai hidup baru, merespon si calon gebetan c. Malas, cowok/cewek di dunia ini sama-sama ngeselin 8. Apa rencanamu ke depan setelah putus dari mantan? a. Tunggu dulu, cari waktu yang tepat buat ngajak balikan b. Semua cewek/cowok sama aja, ogah pacaran lagi c. Saatnya senang-senang bersama teman-teman
Kunci 1. a=2, b=3, c=1 2. a=3, b=2, c=1 3. a=3, b=2, c=1 4. a=1, b=3, c=2 5. a=2, b=1, c=3 6. a=3, b=2, c=1 7. a=3, b=1, c=2 8. a=3, b=2, c=1
Stadium 1 (8-12) WOW! Selamat! Ternyata patah hati tidak membuatmu kesusahan sama sekali. Kamu sadar betul bahwa ini hanyalah salah satu fase dalam hidup yang harus dilalui dengan tetap riang. Lagu Shaden ”Dunia Belum Berakhir” rupanya cocok untukmu. Pertahankan sikap bajamu ketika kamu harus berhadapan dengan patah hati. Namun, jangan sampai sikap cuekmu ini justru menyakiti orang lain ya!
Stadium 2 (13-19) Patah hati cukup membuatmu kerepotan, tapi kamu berusaha sekuat hati dan tenaga untuk melawannya. Berusaha melupakan semua kepedihan dengan caramu. Dengan usaha yang giat ini, yakin deh kamu akan sembuh lebih cepat. Keep fight yaa!
Stadium 4 (20-24) Ups, gawat! Kamu mengalami patah hati yang cukup akut. Kamu merasa sangat terpuruk dengan kejadian yang menimpamu. Rasa percaya diri menurun, dan kamu berpikir bahwa Cuma si mantan yang terbaik untukmu. Kamu sangat ingin balikan sama mantan, tak tahan mengingat segala kenangan yang pernah kalian alami bersama. Kalau begini terus, kamu nggak akan sembuh cepat. Konsentrasimu untuk belajar dan beraktivitas akan sangat terganggu. Namun, tenang saja, tips di bawah ini akan membantumu.
Tips menaklukkan patah hati § Jangan meratap Oh, came on! Kamu boleh patah hati, tapi janganlah kamu meratapi nasibmu. Meratapi diri sendiri adalah hal yang paling parah saat kamu merasa patah hati. Semakin kamu meratap, semakin turun rasa percaya dirimu. Ini sangat bahaya bagi jiwa dan ragamu, membuatmu tambah lama untuk sembuh. Bersyukur atau berusaha untuk bersyukur adalah jalan keluarnya. Stop meratap, mulailah menatap. Menatap masa depan. You go dude!! § Nikmati saja, kapan lagi! Beruntunglah kamu yang mengalami rasa patah hati, berarti kamu pernah merasakan cinta sebelumnya atau masih. Lengkapilah manis pahit kehidupan ;). Referensi hidup bertambah banyak. Maka, yang kamu butuhkan sekarang adalah menikmati masa ini . Nikmati patah hatimu dengan jokes yang kamu ciptakan sendiri. Cheer up guys! § Saatnya menjadi malaikat Selama kamu punya pacar atau gebetan, mungkin waktumu kurang lebih tersita untuknya. Setelah putus, atau ehem..ditolak, kini kamu boleh berbangga karena sebentar lagi lingkunganmu akan mendapatkan kembali perhatianmu. Walaupun patah hati, tapi tetap dapat pahala, hehehe. Kamu akan menjelma menjadi malaikat yang akan memerhatikan sekitarmu. Jalan lagi bersama teman-temanmu, kasih makan ikan di rumah yang sempat terlantar, antar mama shopping di malam minggu. Senang bukan? Perhatianmu pada patah hati juga akan teralihkan. § Kamu OKE, kok! Patah hati terkadang membuat orang menjadi hilang percaya diri. Habis diputusin atau ditolak, akan muncul pertanyaan-pertanyaan seperti,” Duh, emang aku kurang apa sih?” Wajar, tapi jangan terlalu berlarut-larut ya. Sekarang, carilah cermin, berdiri di depannya, dan tersenyumlah, ”Aku oke, kok!” Niscaya kamu akan mendapat kekuatan baru untuk lebih percaya diri. Jangan sampai patah hati justru membuatmu semakin malas mengurus diri. Tunjukkan pada semua orang bahwa kamu justru lebih baik. Mandi yang rajin ;), ini akan membantu menyegarkan lo, apalagi pakai aroma therapy, hehehe. Pakai baju terbaik, yang rapi. Menyisir rambut, dan selalu wangi. Percaya nggak percaya, penampilan akan mendukungmu untuk lebih percaya diri. § Aku baik-baik saja Last but not least, jangan kebanyakan dengerin lagu-lagu patah hati yang sendu dan cengeng. Secara pskikologis, ini tak akan membuatmu lebih baik, justru bikin kamu makin terlarut dan teringat terus akan kesedihanmu. Dengarkanlah lagu patah hati yang solutif, artinya yang mengajakmu untuk berdiri lagi, misalnya seperti lagunya Opie Andaresta yang paling baru.
Selamat mencoba, dan semoga lekas sembuh!
Dila Maretihaq Sari Tim Flamboyan 2009 (Kompetensi: Pernah mengalami berbagai cobaan patah hati dan sangguh sembuh)
heran, bingung, dan kaget mungkin tiga kata yang mewakili perasaan ayah saya kemarin pagi setelah menemukan amplop coklat itu.
Ayah saya menemukan amplop coklat persis di pinggir jalan depan rumah. Amplop berukuran sedang ini berisi cek senilai 3,8 Milyar dari bank BNI, surat tanah, dan surat ijin usaha. Di amplopnya tertera kop surat PT. Mico Graha Pavindo, Jln. Kertajaya INdah 14 C-9, Surabaya.
Dalam surat ijin usaha juga lengkap tertulis nama pemilik dan nomor teleponnya, merasa bahwa ini dokumen yang 'mungkin' penting, ayah saya menelpon orang yang bersangkutan, tapi sayangnya nomor teleponnya tidak dapat dihubungi. Kejadian ini terjadi kemarin siang.
Malam harinya, ketika saya pulang, ayah saya bercerita tentang kejadian itu. Karena saya cerdas dan penuh telisik, maka saya mengecek amplop panas itu (hehe, kalo beneran, bisye jadi kaye raye ni keluarga ogut). PErtama melihat, apa yang tertera tampak tidak meyakinkan. Bahkan stempelnya pun seperti hanya print out saja. KEcurigaan saya jelas muncul. Aneh sekali sih nih barang, dan kami (sekeluarga) tidak pernah menemukan yang seperti ini.
Atas dasar penasaran, saya coba mencari di google tentang PT. MGP. Dan benar saja, muncul banyak sekali web yang membahas tentang perusahaan ini. Salah satunya, waspadaonline.com. DAri nama webnya saja mengingatkan saya pada bang napi dan kejahatan, hehehe. Sekali lagi, benar saja, ternyata cek senilai 3,8 M itu merupakan salah satu modus penipuan antar provinsi. Sudah ada yang menjadi korban, di Tebing Tinggi, kena tipu Rp 100 ribu. Si perampok akan meminta pin ATM kamu dan menjebol ATMmu dengan menuntunmu sampai ATM. Beberapa kali pencet, diut tabungan bisa amblas.
Ada-ada saja modus penipuan jaman sekarang, makin variatif dan kreatif. Karena jaman lagi krisis atau memang moral yang 'kritis'?
Untungnya, perusahaan jadi-jadian itu tidak dapat dihubungi. Satu lagi, walaupun ayah saya memiliki kartu ATM, beliau tak bisa mengoperasikannya, hehehe. Selamatlah.....(selain karena kecerdasan saya juga, wekekeke).
|